Kampung Bena Tradisi Yang Terjaga

Kampung Bena di Bajawa adalah salah satu dari desa tradisional Flores yang masih tersisa meninggalkan jejak-jejak budaya megalit yang mengagumkan. Desa ini lokasinya hanya 18 km dari kota Bajawa di Pulau Flores. Kota Bajawa yang terletak di cekungan seperti sebuah piring yang dipagari barisan pegunungan. Kehidupan di Kampung Bena dipertahankan bersama budaya zaman batu yang tidak banyak berubah sejak 1.200 tahun yang lalu. Di sini ada 9 suku yang menghuni 45 unit rumah, yaitu: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Pembeda antara satu suku dengan suku lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah. Setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian. Rumah suku Bena sendiri berada di tengah-tengah. Karena suku Bena dianggap suku yang paling tua dan pendiri kampung maka karena itu pula dinamai dengan nama Bena. Umumnya warga suku-suku di Bena bermata pencaharian sebagai peladang dengan kebun-kebun menghijau tumbuh di sisi-sisi ngarai yang mengelilingi kampung. Untuk berkomunikasi sehari- hari mereka menggunakan bahasa Nga’dha. Hampir seluruh warga Kampung Bena memeluk agama Katolik namun tetap menjalakan kepercayaan leluhur termasuk adat dan tradisinya. Kampung adat Bena berada berada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur tepatnya di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, sekitar 19 kilometer di selatan Bajawa. Kampung ini berada di puncak bukit dengan pemandangan Gunung Inerie. Karena berada di lereng gunung, kampung ini cukup dingin dan sering dihiasi dengan kabut. Gunung yang pernah meletus pada 1882 dan 1970 tersebut bisa didaki saat musim kemarau, antara Juni hingga Agustus. Dari puncaknya Anda akan melihat pemandangan elok ke segala arah, termasuk Bajawa di sebelah barat laut dan birunya Laut Sawu di bagian selatan. Keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama yang percaya bahwa para dewa tinggal di gunung. Menurut penduduk kampung ini, mereka meyakini keberadaan Yeta, dewa di gunung ini yang melindungi kampung mereka. Kepercayaan itu masih dipegang oleh masyarakat setempat hingga sekarang. Karena kepercayaan itu, penduduk asli ini pun masih mempertahankan adat istiadat mereka. Termasuk mempertahankan bangunan rumah yang mereka tinggali yang jumlahnya kurang lebih 40-an. Rumah-rumah di sini masih menggunakan bahan-bahan seperti jerami dan kayu. Diperkirakan tempat tinggal masyarakat setempat tidak banyak berubah sejak 1.200 tahun. Pemukiman ini berbentuk memanjang dari utara ke selatan seperti kapal. Pintu masuknya hanya dari utara sementara ujung lainnya berupa tepi tebing yang terjal. Di kampung ini ada beberapa suku yang tinggal yakni Suku Khopa, Ago, Ngada, Deru Solamae, Deru Lalulewa, Wahto, Dizi dan Dizi Azi. Mereka kebanyakan bekerja sebagai peladang dan kaum wanitanya suka menenun.

Bena Flores

Baca Juga:   Ride For Friendship Duo Rider Menjalin Persahabat antar Negara