23 / 100

Jalan jalan ke Yogya

RMD kumpul bareng

VOID atau IRT maupun OntaHood atau apapun tidak masalah yang penting persaudaraan tetap terjaga. Kata mas Nanang, motor-motorku dewe, persahabatan dimanapun dengan siapapun, Salut mas

JAKARTA - YOGYA PP

Mengambil Libur Idul Adha, kami berkumpul di Yogya. Perjalanan yang menyenangkan walaupun hanya 3 hari saja.

Perjalanan dimulai dari Jakarta awalnya mau berangkat jam 14.00 jadi mundur karena ada rapat di kantor. Mundur jadi jam 16.30, kami langsung menuju Cirebon,  kita start dari Cirebon jam 08.00 malam, makan dulu di Mang Dharma empal gentong yang terletak di Jl. P. Diponegoro No.23, Kesenden, Kec. Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45121. Makanan khas Cirebon yang sangat nikmat tapi buat yang kolesterol hati hati ya..dijamin lemak bakalan nambah,

Kita start riding jam 22.00 malam ke Dieng, Beben ikut dengan motor X Max. Saya naik Versys X  produksi 2019 tapi saya belinya di tahun 2020. Kemudian Bong Haryanto pake Honda CBX 500. 

Kita lewat jalur utara sampai di Kajen kami belok kanan. Mulai kami melewati jalan pegunungan di raya kalibening mengarah ke raya Batur. Waktu menunjukan pukul 02.00 pagi  saat kami mendekati Dieng, sangat dingin dan membuat tangan berasa membeku. Saya pake jacket Alpinstar summer dan terasa banget dinginnya.  Kami melihat bulan menerangi perjalanan kami dan gugusan rasi Bintang Milkyway terlihat di kejauhan. Bong Haryanto mengajak saya untuk berhenti foto sejenak, tapi karena dingin sekali saya enggan untuk mengambil foto.  Pagi ini saya baca media online detik travel  ternyata tanggal 31 Juli 2020 suhu mencapai – 4(minus empat) derajat C. Pantesan dinginnya luar biasa.

Jam 2.00 31 Juli 2020  kami merapat di Tani Jiwo, dan istirahat hingga paginya. Pagi sekali rekan kami yang tinggal di Wonosobo, Aditya sudah ada di hotel, setelah sarapan nasi goreng, kami bergegas menuju Yogyakarta. Dalam perjalanan ke Yogya kami mampir ke Curuk Sikarim. Curug Sikarim adalah air terjun yang berada di Dataran Tinggi Dieng di antara Gunung Bisma dan Gunung Sikunir pada ketinggian 1.800 meter di atas permukaan air laut. Air terjun yang berasal dari limpahan Telaga Cebong tersebut mengalir menuruni tebing perbukitan setinggi hampir 90 meter dan jatuh ke Sungai Mlandi. Dari situ kami mengarah ke kota Wonosobo.

Kami makan siang di Wonosobo dan mampir dirumah Adit yang luasnya 2 kali lapangan bola, Buset itu rumah apa istana ya.

Kami ke Yogya hanya bertiga karena Beben ada keperluan di Banjarnegara.

Sampai di Yogya rekan kerja, Helmi dan Gita (ini sahabat saya yang kerja di Inews) nyusul ke Hotel, malamnya ada Adrin dan Istri (Mbok Mingkem) yang lagi di Yogya, juga ketemu Jaga Muda yang memang tinggal di Yogya. Agak malam beben nyampe di hotel dan juga rombongan kawan dari Surabaya (Tutuko Widodo dan rekan).

Suasana semakin rame, kita melepas rindu di caffe Lucifer Malioboro.

Paginya kami siap siap menuju Selo, tujuan kami ke Salatiga dan menginap disana sebelum pulang. Rutenya adalah melalui Selo yang terletak diantara gunung Merapi dan Merbabu. 

Iring Iringan motor 7 motor kami ke Selo dan disitu kami ketemu dengan Nanang Wawan dan Dian pemilik toko touring gear di Makassar. Kami juga ketemu dengan Mas Joe pengelola Embung  Manajar dan Aktivis lingkungan yang menghijaukan konservasi alam gunung Merbabu. Kami mendaki dengan motor ke Embung manajar, jalanan yang sempit dan sangat curam membuat banyak para pemotor yang jatuh. Didepan saya sendiri ada Vixion jatuh, Kemudian dari atas motor mio rem blong dan hampir masuk kejurang membuat para pengendaranya pucat pasi.  Memang pemandangan diatas

ini begitu Indahnya. Namun menuju keatasnya perlu perjuangan ekstra.  Letaknya sebenarnya nggak jauh dari Puncak Selo.

Setelah disitu kami menuju ke Salatiga yang jaraknya hanya sekitar 2 jam dari Selo. Kami memotong jalan menuju Salatiga dan kami tembus di Ampel. Makan soto disini dan lanjut ke D Emmerick di Kopeng.

Manajer hotel temennya Mas Nanang dan kami mendapat diskon 25 % lumayan. D Emmerik ini terletak diatas bukit dan menghadap ke kota Salatiga. Oleh karena itu kalau malam menyuguhkan pemandangan yang indah.

Malamnya kami turun ke Kota untuk makan malam, kami tidak menggunakan helm karena kami pikir dekat. Saat pulangnya ternyata ada razia besar besaran dan membuat kami musti putar balik tunggang langgang lari dari kejaran polisi hahaha. Kami memutar lewat jalan kampung menghindari razia. Pengalaman, mau deket kek atau jauh helm harus pake.

Setelah itu saya diskusi dengan Tutuko Widodo mengenai persiapan perjalanan ke Norway selama 3 bulan. Saya bilang bahwa saya sudah siapkan tinggal ganti side box dan top box serta GPS. Selebihnya sudah direncanakan dan bisa di baca di link ini  

Tanggal 02 Agustus 2020 kami pulang ke Jakarta, dan jalur yang kami lewati kembali daerah Wonosobo, pertama dingin dan kedua tidak macet. Sebelum pulang kami diajak makan di Muncul oleh mas Nanang. Pagi itu Aditya Wonosobo nyusul kami lagi.

Sesampainya di Kledung Pass kami bertemu dengan Ryan Yogya, ditraktir pula hahaha, Thank om Rian. Ryan ini adalah pengusaha Car Wash dan Poles mobil serta kontrakan di Yogya.  Setelah makan siang disitu kami melaju lagi menuju ke Cirebon melalui brebes.

Sampai di Cirebon jam 19.00 dan kami makan malem di Mang Dharma Empal Gentong lagi.

Hari MInggu adalah hari terakhir liburan dan macetnya luar biasa. Saya sampai Jakarta jam 2.30 dini hari. Cuma ada satu kata Edannnn

Yogyakarta
Warung Joglo Kledung Pass
Muncul Ambarawa : Courtessy Nanang Wawan
Jalan Jalan ke Jawa Tengah dan Yogya
Borobudur
IRT
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow
Slider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *